Monday, October 14, 2019

KPK Tak Dilibatkan Jokowi Pilih Menteri, Istana: Jangan Baper!

Tenaga Ahli Kedeputian IV Kedeputian IV Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin meminta KPK tak perlu protes jika tak lagi dilibatkan dalam pemilihan menteri untuk kabinet periodenya kedua Jokowi bersama Ma'ruf Amin. 

Sebab, kewenangan dalam memilih menteri adalah sepenuhnya hak prerogatif Presiden Jokowi. 
Jokowi berhak memilih apakah akan meminta pertimbangan KPK atau tidak dalam memilih orang-orang yang akan membantunya di pemerintahan. 

"Kalau presiden merasa perlu, presiden ajak bicara KPK. Kalau Presiden merasa apa yang ada dari pengetahuannya, ya sudah untuk apa tarik-tarik presiden dalam urusan itu," kata Ngabalin saat dihubungi, Senin (14/11/2019) malam. 

"Itu kan urusan independen, hak prerogratif presiden mengangkat dan memberhentikan menteri," sambungnya. 

Ngabalin sendiri mengaku tidak tahu persis alasan yang membuat Presiden Jokowi kini tidak lagi melibatkan KPK layaknya saat akan menjabat pertama kali pada 2014 lalu. 

Namun, Ngabalin meminta perbedaan metode Presiden dalam menjaring menteri ini tidak dipersoalkan. 

"Ya itulah kewenangan presiden. Enggak usah baper lagi dalam urusan yang begitu, enggak usah gede rasa, enggak usah GR lah," kata politisi Golkar ini. 

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tidak dilibatkan dalam penelusuran rekam jejak nama-nama calon menteri yang akan duduk di kabinet pemerintahan periode 2019-2024. 

Wakil Ketua KPK Laode M Syarif menyatakan, KPK berharap nama-nama yang dipilih presiden terpilih Joko Widodo untuk di kursi kabinet nanti merupakan sosok yang berintegritas. 
"Kita tidak diikutkan tetapi kita berharap bahwa yang ditunjuk oleh presiden adalah orang-orang yang mempunyai track record yang bagus, dari segi integritas tidak tercela," kata Laode kepada wartawan, Senin (14/10/2019). 

Laode mengatakan, pemilihan nama menteri merupakan hak prerogatif presiden. Oleh karena itu, KPK tak memaksa agar dilibatkan dalam proses pemilihan nama menteri. 

Laode pun meyakini bahwa Jokowi dapat memilih nama yang benar-benar cakap dan beintegritas untuk duduk di kursi menteri.

Sunday, October 13, 2019

Cerita di Balik Tiga Anggota TNI Dicopot dan Ditahan gara-gara Istri Hujat Wiranto di Medsos

.
Kamis (10/10/2019) siang, Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto ditusuk oleh SA saat baru turun dari mobil di Alun-alun Menes, Pandeglang, Banten. 

Wiranto ditusuk usai menghadiri sebuah acara di Universitas Mathla'ul Anwar, ia berencana akan kembali ke Jakarta dengan naik helikopter. 

Peristiwa penusukan yang dialami Menko Polhukam pun ramai di media sosial, menanggapi kabar penyerangan terhadap pejabat negara yang sudah eksis sejak jaman kepemimpinan Presiden Soeharto ini, masyarakat banyak yang tidak bersimpati, bahkan menyebutnya sebagai kejadian yang direkayasa. 

Salah satunya disampaikan oleh akun @Nazar81019243 di Twitter. 

“Enggak percaya. Di situ ada TNI dan orang-orang dekat Pak Wiranto, kok kayak tidak ada reaksi terhadap pelaku,” tulisnya. 

Tak hanya dari masyarakat kalangan biasa, tiga istri anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) pun mengunggah konten negatif terkait penusukan terhadap Wiranto. 

Akibatnya, tiga personel TNI tersebut mendapat saksi hukum dan dicopot dari jabatannya. 
Ketiga istri TNI dinilai berujar secara tidak pantas di media sosial, terkait kasus penusukan terhadap Menko Polhukam Wiranto. 

Tak hanya itu, ketiga istri anggota TNI itu pun dilaporkan ke polisi karena dianggap melanggar UU No 19 Tahun 2016 tentang ITE.

Berawal dari unggahan sang istri 

Tiga personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) mendapat saksi hukum dan dicopot dari jabatannya. 

Ketiganya diberikan sanksi dan hukuman disiplin, lantaran ulah istri mereka yang mengunggah konten bernada negatif di media sosial. 

Istri ketiganya dinilai berujar secara tidak pantas di media sosial, terkait kasus penusukan terhadap Menko Polhukam Wiranto. 

Ketiga anggota TNI tersebut adalah Peltu YNS, anggota POMAU Lanud Muljono Surabaya, Komandan Distrik Militer Kendari, Kolonel HS dan Sersan Dua Z. 

Untuk Kolonel HS dan Serda Z, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Andika Perkasa menjelaskan, para anggota TNI tersebut mendapatkan sanksi atas ulah istri-istri mereka. 

"Proses administrasi (hukuman terhadap HS dan Z) sudah saya tanda tangani. Tetapi besok akan dilepaskan oleh Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) Hasanuddin di Makassar karena masuk ke Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara," ujar Andika di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, Jumat (11/10/2019), sebagaimana dikutip Antara. 

Dicopot dan ditahan 

Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Andika Perkasa menghukum dua personel TNI AD, yakni Kolonel HS dan Sersan Z. HZ dan S dicopot dari jabatannya ditambah penahanan 14 hari. 

Khusus HZ, diketahui dicopot dari jabatannya selaku Komandan Distrik Militer (Kodim) Kendari, Sulawesi tenggara. Sementara, Sersan Z sebelumnya bertugas di Detasemen Kavaleri Berkuda di Bandung, Jawa Barat. 

Menurut Andika, pencopotan kedua prajurit TNI tersebut telah disesuaikan dengan Undang-undang Nomor 25 Tahun 2014 tentang Hukum Disiplin Militer. 

Sementara itu, Peltu YNS, seorang anggota Polisi Militer (POM) Angkatan Udara Lanud Muljono Surabaya, mendapat peringatan keras, dicopot dari jabatannya, dan ditahan. 

Penyebabnya, FS, yang merupakan istri Peltu YNS, memposting pesan bernada hujatan di media sosial kepada Menko Polhukam Wiranto. 

Dilaporkan ke polisi 

Akibat unggahan ketiga istri anggota tersebut, yaitu FS, IPDL, dan LZ, juga dilaporkan ke kepolisian karena dianggap melanggar UU No 19 Tahun 2016 tentang ITE. 

Selain itu, istri Peltu YNS yaitu FS, dilaporkan ke Polres Sidoarjo. 

Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Andika Perkasa mengatakan, unggahan istri Kolonel HS berinisial IPDL, dan Sersan Dua Z berinisial LZ, dinilai tak pantas. 

Apalagi, keduanya adalah istri dari seorang prajurit TNI. Selain itu, pihak TNI juga melaporkan para istri prajurit TNI tersebut ke kepolisian terkait pelanggaran UU ITE. 

"Dua individu ini kami duga melanggar Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 8 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Akan kami dorong prosesnya ke peradilan umum," ujar Andika. 

Penjelasan TNI AU 

Situs resmi TNI AU di tni.au.mil.id menjelaskan, postingan FS, istri Peltu YNS, yang berisi doa tak pantas untuk Wiranto, dianggap melanggar peraturan Keluarga Besar Tentara (KBT). 

"Dalam urusan politik, posisi prajurit TNI AU dan keluarganya (KBT/Keluarga Besar Tentara) sudah jelas, netral. Oleh karena itu, KBT dilarang berkomentar, termasuk di media sosial yang berdampak pendiskreditan pemerintah maupun simbol-simbol negara," demikian situs TNI AU memberikan argumen. 

Dalam rilis tersebut juga dijelaskan, KBT yang kedapatan melanggar akan dikenai sanksi sesuai aturan yang berlaku. 

Selain itu, TNI AU menganggap postingan FS juga dianggap menyebarkan opini negatif terhadap pemerintah dan simbol negara, dengan cara mengunggah komentar yang mengandung fitnah, tidak sopan, dan penuh kebencian. 

"Akhirnya yang bersangkutan dan suaminya dikenai sanksi," demikian dalam siaran pers TNI AU. 

Sikap keluarga personel TNI akan menjatuhkan kehormatan sang prajurit militer 

Komandan Kodim 1417/ Kendari Kolonel Kav Hendi Suhendi dicopot dari jabatannya oleh Kepala Staf TNI Angkatan Darat. 

Pencopotan Hendi dari jabatannya tersebut lantaran sang istri yang berinisial IPDL, mengunggah konten negatif di akun media sosial. 

Konten tersebut terkait dengan peristiwa penusukan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto di Pandeglang, Banten, Kamis (10/10/2019). 

Kepala Penerangan Komando Daerah Militer (Kapendam) XIV Hasanuddin Letnan Kolonel Maskun Nafik menjelaskan alasannya. 

Menurut Nafik, sikap atau pernyataan seorang istri perwira atau personel TNI bisa berimplikasi menjadi gangguan atau polemik di dalam kondisi sosial masyarakat. 

Pada akhirnya, menurut Nafik, sikap keluarga personel TNI itu akan menjatuhkan kehormatan sang prajurit militer. 

"Akhirnya, martabat militernya menjadi terganggu atau boleh dikatakan kehormatan militernya jatuh. Ibaratnya seperti itu," ujar Nafik saat diwawancarai, Sabtu (12/10/2019). 

Terima apa pun keputusan 

Komandan Kodim 1417/ Kendari Kolonel Kav Hendi Suhendi resmi dicopot dari jabatannya. 
Pencopotan dilakukan melalui serah terima jabatan yang dipimpin oleh Komandan Korem 143/Ho Kendari Kolonel Inf Yustinus Nono Yulianto di Aula Sudirman Markas Komando Resor Militer Kendari, Sabtu (12/10/2019). 

Jabatan sebagai Komandan Kodim (Dandim) 1417/Kendari kemudian diserahkan kepada Kolonel Inf Alamsyah. 

Seusai acara, Kolonel Hendi menyampaikan bahwa dia menerima apa pun keputusan pimpinan yang telah dikeluarkan terhadapnya. 

Hendi siap menjalankan hukuman yang dijatuhkan kepadanya. 

"Saya terima, jadikan pelajaran, saya terima salah. Apa pun keputusan dari pimpinan saya terima, dan memang itu mungkin pelajaran bagi kita semua," ujar Hendi kepada sejumlah wartawan seusai sertijab di Aula Sudirman Makorem Kendari, Sabtu siang. 

"Ambil hikmah buat kita semua," kata Hendi. 

Pencopotan Dandim Kendari itu buntut dari unggahan istrinya di media sosial Facebook.

Saturday, October 12, 2019

Merefleksikan Joker (1): Betulkah Orang Jahat adalah Orang Baik yang Tersakiti?


"Orang jahat adalah orang baik yang tersakiti," begitu opini sebagian warganet usai menonton film Joker. Mereka memaklumi soal bagaimana Arthur Fleck menjadi Joker. 

Dalam Joker (2019), musuh Batman ini diceritakan sebagai penderita penyakit mental yang kerap dizalimi lingkungannya. 

Setelah keluar dari rumah sakit jiwa, Arthur yang bercita-cita menjadi komedian harus bekerja sebagai badut untuk menghidupi dirinya dan ibunya. 

Ia kerap digebuki hingga akhirnya dipecat sebagai badut sewaan. Tak ada teman untuk berkeluh kesah karena semua orang menganggapnya aneh. 

Sulitnya kehidupan di kota Gotham membuat Arthur semakin terpuruk. Terapi dan pengobatan untuknya dari Dinas Sosial bahkan terpaksa dihentikan. 

Arthur baru menemukan jati dirinya dan merasa bahagia ketika ia membunuh orang. Apalagi, ia dielu-elukan dan diikuti warga miskin Gotham yang muak dengan susahnya hidup. 

Benarkah kejahatan bersumber dari mental? 

Apa yang dialami Joker terkesan sangat mungkin terjadi di kehidupan nyata. 

Bukankah itu yang dialami para penembak di Amerika Serikat? 

Sebenarnya tidak juga. Penelitian berjudul Dangerous Weapons Or Dangerous People? The Temporal Associations Between Gun Violence And Mental Health pada tahun 2019 mengungkap bahwa penyakit mental bukan akar dari kekerasan dengan senjata api. 

Dari 663 responden yang diteliti, disimpulkan bahwa individu dengan perawatan mental yang memadai dan yang tidak, sama-sama punya dorongan kekerasan. 

Gejala penyakit mental ternyata tak berkaitan dengan kekerasan dengan senjata api. Faktor yang lebih mendorong yakni akses terhadap senjata api itu sendiri. 

Begitu juga menurut studi tahun 2015 berjudul Mass Murder, Mental Illness, and Men. Dari 235 pelaku penembakan massal, hanya 22 persen yang bisa dikategorikan sakit jiwa. 

Studi tahun 2016 berjudul Mental Illness and Reduction of Gun Violence And Suicide: Bringing Epidemiologic Research To Policy juga mengungkap hal yang sama. 

Mayoritas pengidap gangguan jiwa tidak terlibat aksi kekerasan dengan orang lain. Perilaku kekerasan lebih banyak disebabkan faktor di luar gangguan mental. 

Orang baik menjadi jahat 

Jika penyakit mental bukan pendorong orang melakukan kekerasan, maka bukankah benar, tekanan dari eksternal diri sebagai penyebabnya? 

Arthur Fleck hanya manusia biasa dengan sakit mental yang tidak diinginkannya. Kejamnya dunia yang membuatnya menjadi Joker. 

Guru Besar Kriminologi Universitas Indonesia Muhammad Mustofa menilai perilaku kekerasan bisa muncul dari perasaan terluka. 

"Teroris pada umumnya merasa sebagai pihak yang teraniaya. Untuk menghadapi pihak yang menganiaya secara langsung tidak mungkin. Jadi untuk menunjukkan eksistensi mereka melakukan serangan acak terhadap simbol lawan," kata Mustofa. 

"Dendam" terhadap perlakuan buruk yang diterima individu, menurut Mustofa hanya tergantung persepsi. 

Jika teroris memilih menyerang pihak yang dimusuhinya seperti pihak asing atau kepolisian, maka pejuang memilih cara lain.


"Dalam perspektif yang lebih positif, pejuang kemerdekaan memilih cara gerilya dalam menghadapi penjajah. Namun ada pula yang memilih cara damai seperti Nelson Mandela. Jadi ini persoalan pilihan mana yang dipandang lebih efektif," ujar Mustofa. 

Namun tak semua kejahatan bermula dari perasaan tersakiti. Hal itu terjadi umumnya kepada penjahat jalanan. Koruptor misalnya, melakukan kejahatan bukan karena ia tersakiti. 
"Penjahat terhormat (white-collar criminal) tidak pernah memperoleh perlakuan yang menyakitkan dari masyarakat," kata Mustofa. 

Ada teori "labelling" yang menyatakan individu bisa menjadi penjahat karena menghayati label yang disematkan padanya. Ini juga biasa terjadi pada penjahat jalanan. 

Selain itu, kejahatan juga bisa muncul dari kebiasaan. Dalam pandangan kriminologi sosial, habitual crime adalah produk dari masyarakat. 

Individu yang bersosialisasi dengan orang-orang yang sudah melakukan tindak pidana, bisa dengan mudah ikut melakukan hal yang sama. 

Lagi-lagi, keputusan untuk menjadi jahat kembali ke masing-masing individu. Kerasnya kehidupan tak melulu membuat orang menjadi agresif dan jahat. 

"Banyak pilihan untuk menyelesaikan masalah. Apalagi apabila tradisi budaya dan adat istiadat dipelihara dan dijunjung tinggi," kata Mustofa.

Friday, October 11, 2019

Fakta Keluarga yang Tinggal di Gubuk Mirip Kandang Ayam, Anak Putus Sekolah hingga Cari Ubi dan Pakis d Hutan


Lena dan suaminya terpaksa tinggal di sebuah gubuk berdinding seng bekas mirip kandang ayam, di Jalan Tani, Desa Mega Timur, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya. 
Pasangan suami istri yang berasal dari Kota Pontianak ini tinggal bersama empat anaknya. Mereka membangun gubuk dari seng bekas kandang ayam milik warga 

Berikut fakta dari keluarga yang tinggal di gubuk mirip kandang ayam: 

1. Rumah lama dijual 

Keluarga Lena berasal dari Siantan Hulu, Kota Pontianak, Kalimantan Barat. 

Mereka terpaksa tinggal di Kabupaten Kubu Raya dan mendirikan gubuk sederhana karena rumah lama mereka dijual bapak mertua sejak dua bulan lalu. 

Lena enggan menceritakan detail masalah keluarganya. Namun alasan mereka tinggal di gubuk karena keterbatasan ekonomi. 

2. Didirikan sendiri oleh Lena dan suami


Lena bercerita gubuk tersebut ia dirikan bersama suaminya di lahan milik warga. Untuk mendapatkan kayu, mereka mencari pohon di hutan. 

Selain itu, ia juga mendapatkan bantuan seng bekas kandang ayam dari warga sekitar yang kemudian dimanfaatkannya untuk dinding gubuk. 

"Untuk kayu-kayunya, saya sama suami mencari pohon di hutan," tuturnya. 

Sehari-hari suami Lena kerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. 

3. Anak putus sekolah 

Lena dan suaminya memiliki empat orang anak, masing-masing berusia 15 tahun, 14 tahun, 5 tahun, dan 1 tahun. 

Anak sulungnya sudah putus sekolah sejak dua tahun yang lalu karena tidak ada biaya. Sementara anak keduanya duduk di bangku SMP kelas VII. 

Ia terancam tidak bisa melanjutkan sekolah karena alasan yang sama yakni tidak ada biaya. 

Saat musim hujan seperti saat ini, anak-anaknya harus mencari duduk dan tidur agar tidak terkena air hujan. 
4. Cari ubi dan sayur di hutan


Lena bercerita ia sering pergi ke hutan untuk mencari ubi dan sayur pakis yang kemudian dijual. 

Hasil penjualan ubi dan pakis digunakan untuk makan sehari-hari mereka. Sementara suaminya kerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. 

Pasangan suami istri ini tinggal bersam empat orang anaknya. Si sulung yang masih berusia 15 tahun terpaksa putus sekolah karena tidak ada biaya sejak dua tahun lalu. 

5. Tidak memiliki BPJS 

Lena mengaku sudah empat hari diare, namun dia memilih tidak berobat karena tidak memiliki biaya dan BPJS kesehatan. 

Sama seperti anak pertamanya yang berusia 15 tahun. Remaja yang putus sekolah sejak dua tahun lalu itu sakit-sakitan dan sering demam karena pernah terjatuh. Lena pun tidak membawanya ke dokter karena tidak memiliki biaya

6. Segara dicarikan solusi


Yandi, anggota DPRD Kota Pontianak mengatakan sejak lama Pemkot Pontianak memiliki program yang mengatur bahwa tidak boleh ditemukan anak putus sekolah karena keterbatasan biaya. 

Ia mengatakan dalam kebijakan tersebut diterangkan bahwa jika masih ditemukan keluarga miskin dan anak putus sekolah, maka lurah setempat akan dicopot dari jabatannya. 

"Kejadian ini jadi kado buruk bagi Kota Pontianak yang akan merayakan ulang tahunnya ke-248 tahun," ujarnya. 

Ia mengatakan adanya satu keluarga yang tinggal di gubuk berdinding seng bekas kandang ayam menunjukkan buruknya komunikasi dan koordinasi aparatur pemerintah di Kota Pontianak. 

"Mengenai persoalan ini, semoga bisa cepat dicarikan solusi," kata Yandi.

Thursday, October 10, 2019

Memaknai Arti Totalitas dari Seorang "Joker"


Bulan Oktober  2019 ini bisa dibilang sebagai bulannya Joker. Film yang menceritakan awal mula "kelahiran" sang villain legendaris dari superhero Batman ini memang mengundang pujian dari banyak kalangan. 

Mulai dari standing applause selama 8 menit pada Venice Film Festival, hingga rating bernilai 10 yang diberikan oleh beberapa kritikus sudah cukup menjadi bukti betapa bagusnya film ini. 

Bahkan sejak awal pemutarannya di bioskop-bioskop seluruh dunia hingga sekarang, film Joker menduduki tangga tertinggi box office. Mungkin label "bagus" dari film ini bisa dibilang relatif. 

Sebagian orang bisa saja beranggapan demikian, sedangkan sebagian yang lain mungkin saja memiliki penilaian yang sebaliknya. Akan tetapi satu hal yang cukup membuat salut banyak orang adalah perihal kualitas akting sang pemeran utama Joker, Joaquin Phoenix.


Joaquin Phoenix benar-benar menunjukkan kualitas akting yang mumpuni. "Pengorbannya" yang bersedia menghilangkan berat badannya hingga 25 kg hanyalah salah satu bukti. 

Ia juga sampai harus "belajar" kepada orang "gila" sungguhan untuk mendapatkan feel tawa menyedihkan ala Joker. Sebuah sikap yang memberi kita pembelajaran akan arti sebuah totalitas. 

Sebelumnya, Heath Ledger pun juga melakukan langkah serupa dalam rangka mendalami perannya sebagi seorang Joker. Meskipun pada akhirnya hal itu juga yang membuat sang aktor depresi karena menyelami peran Joker terlalu dalam hingga berujung pada kematiannya.


Makna Sebuah Totalitas

Seringkali kita memaknai arti totalitas itu sebatas pada kesediaan untuk berkorban. Padahal totalitas memiliki beberapa aspek lain yang juga tidak kalah pentingnya dibandingkan komitmen untuk mengorbankan hal-hal penting di kehidupan kita. 

Berikut adalah beberapa sikap yang menjadi penopang dari totalitas tersebut :

1. Kesediaan untuk Berkorban

Kerelaan atau kesediaan kita untuk mengorbankan hal-hal penting di kehidupan kita merupakan wujud penuangan dari sikap total terhadap sesuatu. 

Seorang aktor yang totalitas terhadap aktingnya, seorang pekerja yang totalitas dalam menjalankan pekerjaannya, seorang guru yang totalitas dalam mengajar murid-muridnya, seorang dokter yang totalitas mengobati para pasiennya, dan lain sebagainya. 

Pada dasarnya segala jenis profesi memerlukan totalitas dari sang empunya profesi itu. Sehingga kualitas hasil kerja bisa tercapai secara maksimal.

Pengorbanan bisa berupa waktu, tenaga, finansial, dan lain sebagainya. Umumnya hal-hal yang menjadi "objek" untuk dikorbankan itu adalah sesuatu yang memiliki arti penting bagi kehidupan kita pribadi. 

Waktu yang semestinya bisa kita pakai untuk bersantai tidak jarang harus dikorbankan demi menunaikan sebuah tugas "negara". 

Uang yang semestinya diperuntukkan untuk keperluan lain terkadang harus dikeluaran demi menalangi hal-hal yang berkaitan dengan profesi. Bahkan fisik pun rela "disakiti" demi mencapai standar profesi sebagaimana sosok Joaquin Phoenix yang melakukan diet hingga 25 kg menghilangkan berat tubuhnya. 

Sebuah langkah yang juga pernah ditempuh oleh Christian Bale saat hendak mengambil peran pada film The Machinist. Pada akhirnya pengorbanan yang mereka lakukan diganjar oleh hasil pencapaian film yang memuaskan.\

2. Giat Mencari Refferensi

Bagi seorang aktor, mendalami peran yang dijalani adalah suatu keharusan. Meskipun begitu, masih banyak dari para aktor dan aktris tersebut yang belum mampu beraksi secara maksimal atau cenderung buruk dalam melakoni perannya. 

Sehingga sebagian aktris dan aktor yang lain sampai merasa perlu untuk melakukan riset khusus guna mendalami seluk beluk tokoh yang ia perankan. 

Joaquin Phoenix mampu menunjukkan tawa menyedihkan ala Joker setelah ia "belajar langsung" dari orang-orang yang mengalami gangguan tawa atau sejenis gangguan tertawa yang tidak bisa dikontrol. Hal ini ia lakukan agar kualitas aktingnya benar-benar terlihat natural.

3. Pemahaman Utuh

Banyak yang beranggapan bahwa film Joker berpotensi menginspirasi penontonnya untuk melakukan tindak kejahatan. Anggapan ini mungkin tidak akan muncul apabila kualitas peran Joker biasa-biasa saja. Namun pembawaan yang seakan begitu nyata oleh Joaquin Phoenix telah menciptakan kesan gelap atas pribadi Joker itu sendiri. 

Hal ini tidak mungkin terjadi apabila sang aktor tidak memiliki pemahaman yang sempurna terhadap sosok Joker.

Interpretasi dari Joaquin Phoenix dalam melihat karakter Joker secara menyeluruh berhasil menyibak hal-hal lain yang barangkali luput dari perhatian beberapa pemeran terdahulu. Apa yang ditunjukkan oleh sang aktor terbukti membawa dimensi baru tentang siapa sebenarnya sosok clown prince of crime ini.

4. Berani Berkata "Tidak"

Pada saat-saat tertentu adakalanya kita perlu berkata "tidak" terhadap sesuatu hal. Pada saat proses syuting film Joker ini dilakukan, Joaquin Phoenix dan Robert de Niro sempat berseteru. 

Gegaranya adalah Joaquin Phonix menolak permintaan Robert de Niro untuk membaca ulang transkrip naskah percakapan pada salah satu adegan yang melibatkan keduanya. Tanpa dinyana ternyata "konflik" kecil ini malah justru memunculkan kualitas adegan yang maksimal diantara keduanya.

Berani berkata tidak itu bukan berarti kita menjadi seseorang yang suka melakukan penolakan. 

Akan tetapi hal itu didasari oleh keyakinan bahwa pemahaman yang kita miliki adakalanya harus lebih diutamakan daripada pemahaman milik orang lain. Kita harus memiliki pendirian untuk memastikan bahwa pemahaman yang kita miliki itu benar-benar bisa dituangkan dalam sebuah karya nyata.

***

Kesediaan untuk berkorban, antusiame untuk mencari refferensi, pemahaman yang utuh, dan keberanian untuk berkata "tidak" adalah beberapa hal yang menjadi kunci untuk menciptakan suatu totalitas dalam bekerja ataupun berkarya. 

Totalitas tidak bisa terjadi jikalau  hanya mengedepankan pengorbanan tanpa dibarengi adanya hal lain setelahnya. 

Totalitas haruslah dimaknai secara utuh bahwa didalamnya kita perlu untuk berkorban sembari terus belajar hal-hal baru hingga kita memiliki pemahaman yang utuh terhadap sesuatu yang ingin kita kerjakan tersebut. 

Selaras dengan hal itu, kita mesti tahu kapan saatnya untuk berkata "tidak".


Wednesday, October 9, 2019

Diperingati Setiap 10 Oktober, Ini Kisah di Balik Hari Kesehatan Jiwa Sedunia



Hari Kesehatan Jiwa Sedunia atau World Mental Health Day diperingati setiap tahunnya pada tanggal 10 Oktober. 

Hari ini, Kamis (10/10/2019), peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia berlangsung untuk yang ke-27 kalinya. 

Hari Kesehatan Jiwa Sedunia pertama kali diperingati pada 10 Oktober 1992. 

Melansir dari situs resmi World Federation For Mental Health (WFMH), sejak pertama kali pada 1992, peringatan ini menjadi agenda tahunan WFMH. 

Pada 1992, peringatan ini diinisiasi oleh Wakil Sekretaris Jenderal, Richard Hunter. 

Mengapa ada peringatan Hari Kesehatan Jiwa? 

Saat kali pertama diperingati, tak ada tema khusus dalam peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia. 

Tujuan awalnya, secara umum mengampanyekan advokasi kesehatan mental dan mendidik masyarakat tentang isu-isu yang relevan terkait kesehatan mental atau kesehatan jiwa. 
Tiga tahun pertama, salah satu kegiatan utama adalah hadir dalam siaran televisi selama dua jam yang dilakukan secara global melalui sistem satelit agen informasi AS dari studio-studio di Talahassee, Florida. 

Dalam siaran tersebut, anggota dewan WFMH berpartisipasi secara langsung di studio, sementara partisipasi negara lain dari Australia, Chili, Inggris, Zambia dilakukan melalui sambungan telepon. 

Untuk Jenewa, Atlanta, dan Meksiko, partisipasi hadir melalui rekaman yang telah diambil sebelumnya. 

Pada siaran pertamanya, secara mengejutkan panggilan telepon tak terduga datang dari Swaziland, sebuah negara kecil di bagian selatan Afrika. 

Di negara itu, sekelompok anggota WFMH berkumpul untuk melihat acara tersebut. 

Hal ini menyadarkan bahwa siaran pertama acara ini telah menjangkau hingga jarak yang cukup jauh. 

Tema Pertama 

Setelah 3 tahun berjalan tanpa tema, pada 1994 atas saran sejumlah pihak, dibuat tema khusus yang mengiringi peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia. 

Maka, tema yang dipilih saat itu adalah “Meningkatkan Kualitas Layanan Kesehatan Mental di Seluruh Dunia”. 

Ketika itu, sebanyak 27 negara memberikan respons atas kampanye kegiatan ini. 

Pada 3 tahun pertamanya, Hari Kesehatan Jiwa Sedunia menjadi momentum bagi pemerintah, organisasi, dan individu yang memiliki kepedulian terhadap kesehatan mental, untuk mengatur program yang fokus pada aspek perawatan kesehatan mental. 

Hari Kesehatan Mental Dunia tak hanya diperingati selama satu hari. 

Biasanya, sejumlah kegiatan digelar sebagai upaya edukasi jangka panjang kepada masyarakat. 

Di beberapa negara, program ini berlangsung selama beberapa hari, seminggu, bahkan dalam beberapa kasus sepanjang bulan. 

Laporan diterima oleh federasi dari seluruh dunia setelah 10 Oktober setiap tahunnya. 
Seiring perjalanan waktu, Hari Kesehatan Mental Dunia semakin berkembang. 

Melalui peringatan ini, federasi membuka jalan untuk mempromosikan kesehatan jiwa dan menciptakan kesadaran tentang isu-isu yang berhubungan dengan kesehatan mental. 

40 seconds of action 

Tahun ini, WHO mengajak untuk turut berkontribusi terhadap masalah kesehatan mental atau kesehatan jiwa melalui tantangan bertajuk “40 Seconds of Action”. 

Dikutip dari laman resmi WHO, setiap orang bisa berperan dan berkontribusi mencegah terjadinya kasus bunuh diri. 

Berdasarkan data WHO, bunuh diri terjadi setiap 40 detik sekali di seluruh dunia. 

Melalui Hari Kesehatan Jiwa Dunia, mengingatkan kita bahwa mengakhiri hidup dengan cara pintas bisa terjadi pada siapa pun, tanpa mengenal latar belakang sosial maupun kelompok usia.

Tuesday, October 8, 2019

Cerita di Balik Kakak Hamili Adik Kandung, Berawal dari Curhatan hingga Ancam Tak Biayai Sekolah

Romi (23) warga Desa Singa Gembara, Kecamatan Sanggatta Utara, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur (Kaltim) diamankan aparat kepolisian Polres Kutim. Selasa (1/10/2019). 
Romi ditangkap petugas karena telah mencabuli B (19) yang tak lain adik kandungnya sendiri hingga sang adik hamil lima bulan. 

Meskipun perbuatan tersebut dilakukan atas dasar suka sama suka, namun, sang adik melaporkan kakaknya sendiri ke polisi hingga akhirnya ditangkap. 

Berawal dari curhatan

Kasat Reskrim Polres Kutim AKP Ferry Putra Samodra mengatakan, dari hasil penyelidikan yang dilakukan pihaknya, kejadian berawal korban mengaku sering di-bully di sekolah oleh temannya karena kondisi keluarganya yang kurang mampu. 

Sambung Ferry, saat pulang, korban sering curhat ke kakak kandungnya, Romi. 

Dari curhatan itu berujung pada ajakan berhubungan badan yang dilakukan oleh Romi. 

"Dia (B) sering curhat ke kakaknya. Karena curhatan itu secara terus-menerus, kakaknya mengajak berhubungan badan. Itu asal muasalnya," ungkapnya saat dikonfirmasi, Selasa (8/10/2019). 

Diancam tak dibiayai sekolah 

Awalnya B dipaksa Romi untuk melakukan hubungan badan, jika korban menolak maka Romi tak membiayai sekolah B. 

Karena takut tak dibiayai, akhirnya B pun menuruti apa yang dikatakan sang kakak. 
Kemudian, sambung Ferry, berawal dari paksaan tadi, lama kelamaan keduanya pun saling suka dan melakukan hubungan badan layaknya pasangan suami istri secara terus menerus. 

Hubungan terlarang itu pun dilakukan berkali-kali sejak tahun 2018, dan terakhir keduanya melakukan hubungan pada September 2019. 

Terbongkar setelah dibujuk RT 

Dikatakan Ferry, kasus ini terbongkar setelah B hamil. B yang berstatus pelajar kelas III di salah satu SMA di Kutai Timur ini mual-mual di sekolah. 

Saat ditanya guru, B beralasan sakit kista. Alasan yang sama juga disampaikan B ke tetangga dan orangtua hingga membuat B jarang keluar rumah. 

Tetapi, para tetangga menaruh curiga. Ibu RT dan tetangga mendekati B lalu membujuk, awalnya B masih beralasan sakit. 

Tak percaya, Ibu RT pun membawa B ke rumah sakit. Setelah dicek, gadis itu ternyata hamil. 

Akhirnya B terbuka, dia dihamili oleh kakak kandungnya. 

Ibu RT membawa B ke Polres Kutai Timur dan membuat laporan polisi nomor LP/119/X/2019/Kaltim/Res Kutim. 

Kedua orangtua tak tahu 

Ferry mengatakan, B memiliki sembilan bersaudara. Romi adalah kakak pertama dari B. 
Selama ini, orangtua B tinggal terpisah bersama anak-anak tetapi rumah bersebelahan. 

"Hubungan badan dilakukan di rumah yang mereka (B, Romi, dan adik-adiknya) tinggal," katanya. 

Perbuatan itu mereka lakukan saat rumah dalam keadaan kosong, tak ada adik-adiknya. 

Hingga B hamil, orangtua B dan Romi tak mengetahui kejadian itu, mereka baru mengetahui ketika ada laporan polisi dan hasil cek rumah sakit. 

Romi mengakui perbuatannya 

Untuk mempetanggungjawabkan perbuatannya, Polres Kutim telah menahan Romi. 

Kepada polisi Romi mengakui telah menyetubuhi adiknya dengan alasan suka sama suka. 

Atas perbuatannya Romi dijerat Pasal 18 dan Pasal 82 UU nomor 35/2014 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman pidana penjara 15 tahun. 

B kini tinggal bersama orangtua dan menjalani masa kehamilan.