Showing posts with label #Kucing #Ciu #Alkohol #Video #Twitter #50% #KucingAngora #Instastory #MediaSosial #AAH #Viral. Show all posts
Showing posts with label #Kucing #Ciu #Alkohol #Video #Twitter #50% #KucingAngora #Instastory #MediaSosial #AAH #Viral. Show all posts

Saturday, October 19, 2019

Viral Kucing Dicekoki Ciu, Kenapa Warganet Mudah Sekali Marah?


Sebuah video yang menampilkan seekor kucing yang tengah sekarat diduga akibat dipaksa minum cairan dari dalam gelas yang diduga merupakan ciu atau minuman beralkohol ramai beredar di media sosial baru-baru ini. 

Pasalnya, video yang diunggah oleh akun Twitter James, @tolovesme ini menimbulkan respons yang tinggi dari pengguna Twitter lainnya. 

Mayoritas pengguna Twitter menuliskan tanggapan mereka yang marah dengan perlakuan yang dialami kucing tersebut. 

"Liat ini jantung langsung degdegan parah. Emosi, sedih, campur aduk jadi satu. Sebegitu sayangnya saya sama kucing, enggak bisa lihat ada orang yang tega. Salah apa sih kucing itu sama kamu? Dosa apa sih yang sudah dia buat?," tulis akun @vinsnaa dalam twitnya. 
"Sekesel-keselnya saya sama kucing enggak akan tega buat ngelakuin hal sekejam itu..walau kucing tetangga udah makan burung peliharaan saya, jebolin atap rumah, geser genteng rumah sampai pada bocor pas ujan, berak sembarangan, hobi nyuri makanan di meja, tapi kalau mau marah enggak tega mukanya terlalu lucu," tulis akun @jaki_zackski dalam twitnya. 

"Biadab kejam sekali. Semoga pelaku juga akan mendapat perlakuan yang sama. Biar dia rasakan apa yang kucing tersebut rasakan," tulis akun @EmmySumangkut dalam twitnya. 
Menilik fenomena tersebut, dokter spesialis kesehatan jiwa di RS Gading Pluit, Kelapa Gading, Jakarta Utara, dr Dharmawan AP, SpKJ mengungkapkan bahwa fenomena warganet yang marah dengan video kucing yang viral merupakan reaksi yang reaktif dari masyarakat. 

"Ini kan masyarakat yang belum dewasa menyikapi media sosial. yang posting pun tidak bijaksana, yang bereaksi kan sama aja yang reaktif terhadap suatu kasus baik di medsos maupun langsung kejadian di masyarakat.
"Masyarakat yang reaktif, bukan asertif," kata dia. 

Adapun asertif merupakan kemampuan untuk mengomunikasikan apa yang diinginkan dan dipikirkan kepada orang lain, namun tetap menjaga dan menghargai perasaan pihak lain. 
Menyoal jika ada unggahan yang menimbulkan emosi, Dharmawan menyarankan agar warganet sebaiknya memiliki pendidikan kesehatan jiwa. 

"Pendidikan kesehatan jiwa masyarakat harusnya bisa menghasilkan masyarakat yang bisa mengonfirmasi dulu setiap ada stimulus (tabbayun)," ujar Dharmawan. 

Menurutnya, luapan emosi yang dituliskan warganet merupakan reaksi bahwa ciu tidak boleh diberikan pada binatang. 

Tak hanya itu, tindakan merekam video juga dinilai tidak sesuai dengan etika bersikap terhadap makhluk hidup. 

"Jadi, boleh saja bereaksi menentang sikap tidak berperasaan pada sesama makhluk hidup, tapi reaksi yang asertif bukan reaktif," ujar Dharmawan. 

Tak hanya itu, Dharmawan mengungkapkan untuk upaya antisipasi agar fenomena emosi berlebihan tidak terjadi, ia mengungkapkan agar menerapkan pendidikan sejak kecil. 

Adapun pendidikan ini diinisiasi supaya masyarakat dapat mengenali dan mengolah rasa serta mengendalikan perilaku. 

Tanggapan Sosiolog 

Sementara itu, Guru Besar Sosiologi dari Universitas Airlangga (Unair) Bagong Suyanto menjelaskan bahwa ketika informasi cepat menyebar luas tanpa adanya kejelasan, maka kemungkinan kabar tersebut adalah hoaks. 

"Memang ketika informasi cepat meluas, tapi tidak diimbangi dengan literasi kritis yang kuat, maka kemungkinan termakan hoaks akan besar," ujar Bagong saat dihubungi Kompas.com secara terpisah pada Sabtu (19/10/2019). 

Ia mengungkapkan bahwa agar tidak termakan hoaks, sebaiknya masyarakat menerapkan literasi kritis. 

"Net generation disebut now generation. Kalau apa-apa ingin seketika, tapi tidak kritis," kata dia. 

Adapun efek ke depannya jika masyarakat cenderang mudah terbawa emosi, yakni daya imunitas untuk menenggang perbedaan (tidak mudah tersinggung) akan makin tipis dan berpotensi memicu konflik. 

Selain itu, agar masyarakat luas lebih paham mengenai informasi dan situasi media sosial, ada baiknya memiliki sikap skeptis dan menakar terlebih dahulu akurasi informasi. 

Bagong juga mengimbau kepada masyarakat agar membiasakan diri menjeda ketika menerima informasi, dan menunggu klarifikasi baru kemudian baru bisa bersikap.

Friday, October 18, 2019

Viral Video Kucing Diberi Ciu, Bagaimana Ceritanya?



Sebuah video tentang seekor kucing yang diberi ciu (minuman beralkohol) viral di media sosial Twitter baru-baru ini. 

Dalam video yang beredar, terlihat Instastory seorang pengguna Instagram dengan akun @azzam_cancel yang mengunggah Instastory berupa video kucing yang terlihat dalam keadaan badan basah dan tampak tidak berdaya. 

Video tersebut diposting disertai dengan tulisan 

“Percobaan ciu terhadap kucing angora. Setelah 2 jam empedu bekerja keras mengeluarkan racun. Membuat Tubuh si angora bergetar. 

50 % ciu bekonang sudah masuk darah. Merusak sebagian sistem saraf dalam otak. Otak tidak mampu memberikan intruksi kepada organ tubuh. Sehingga pandangan kabur dan kesadaran mengurang. 

Detak Jantung melemah 

Terimakasih karenamu aku dapat membuat status ini 

Semoga kau tidak pernah tenang di alam sana.. dendamlah kepadaku,” 

Salah satu yang mengunggah ulang video kucing tersebut adalah akun Twitter @jmesbryant 
Postingan tersebut menuai banyak komentar netizen yang menganggap bahwa hal tersebut adalah tindakan keji. 

Sampai dengan Jumat (18/10/2019) unggahan tersebut telah dibagikan ulang sebanyak lebih dari 44 ribu kali dan di-like oleh lebih dari 30 ribu kali. 

Dari informasi yang berhasil dihimpun, @azzam_cancel diketahui merupakan seorang mahasiswa di salah satu PTN di Jogja. 

Selain itu, video itu diambil di daerah Tulungagung, Jawa Timur. 

Saat dikonfirmasi , Jumat (18/10/2019) sore, Kasat Reskrim Polres Tulungagung AKP Hendi Setiadi membenarkan hal tersebut. 

Ia mengatakan peristiwa yang terekam pada video tersebut terjadi pada Rabu (16/10/2019) sekitar pukul 23.00 WIB. 

Berdasarkan keterangan pelaku, ia memberikan kucing tersebut dengan air kelapa dan bukanlah ciu sebagaimana rekaman video yang beredar luas tersebut. 

Sejauh ini, Polres Tulungagung masih melakukan penyelidikan lebih lanjut, karena adanya laporan dari komunitas pencinta hewan. 

Penjelasan kampus 

Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Muqowim mengatakan pihaknya sudah berupaya untuk melakukan upaya klarifikasi dengan pengunggah video yakni AAH, selaku salah satu mahasiswanya. 

Namun hal tersebut menemui kendala. Tetapi, pihaknya mengaku berhasil melakukan komunikasi dengan orangtua AAH. 

Dalam komunikasi tersebut, sang Ayah AAH memberikan klarifikasi atau meluruskan atas video yang tersebar tersebut. 

Yakni, kucing yang di dalam video terseut tidaklah diberi ciu, melainkan diberi air kelapa karena keracunan setelah memakan tikus yang mati karena diberi racun tikus. Kejadian tersebut, imbuhnya terjadi pada Rabu (16/10/2019) malam. 

"Jadi ada kucing tetangga ditemukan sekarat karena makan tikus yang mati karena diracun. Oleh si pemilik (AN) dkk (AAH, Ade, Riky) diupayakan ditolong dengan diminumi air kelapa disaksikan oleh bapak, ibu dan kakeknya AN," ujar Muqowim menirukan ucapan ayah AAH. 
Sayangnya, AAH kemudian menggunggah video tersebut dalam Instastory-nya dengan narasi berbeda. 

"AAH merekam kejadian itu dan membuat narasi konten yang sadis, menggambarkan penyiksaan kucing dengan ciu. Diunggah di Instagramnya," lanjutnya saat dihubungi, Jumat (18/10/2019). 

Karena ramai di medsos, petugas dari Polsek Gondang mendatangi rumah AAH, dan mengamankan sejumlah orang, bangkai kucing dan sampel air kelapa yang dipakai untuk dibawa ke Polsek pada Kamis (17/10/2019) sore. 

"Malam pukul 20.00 karena AN sedang di luar kota, maka Bapak, Ibu AN dihadirkan di Polsek. Setelah melengkapi BAP, semua diperbolehkan pulang pukul 22.00 WIB," kata dia. 

Muqowim menambahkan, Jumat (18/10/2019) pagi, mereka diminta untuk datang ke Polsek lagi. 

Konfirmasi ulang 

Lebih lanjut, pihaknya akan memanggil AAH ke kampus untuk dimintai keterangan lengkap. Namun hal itu belum dapat dilakukan segera, karena yang bersangkutan masih berada di Tulungagung. 

Terkait kasus ini, Muqowim menyebut akan melakukan pembinaan terhadap AAH karena apa yang dilakukannya tidak mencerminkan kompetensi kepribadian, sosial dan leadership. 

Ia juga menegaskan, kejadian tersebut di luar kampus dan tidak ada hubungannya dengan program kampus. 

Muqowim menyayangkan atas tersebarnya video yang dilakukan AAH. 

"Secara pribadi, saya menyayangkan peristiwa ini. Sebab kampus kami sedang menggelorakan ajaran islam yang rahmatan lil alamin, bukan hanya menjadi rahmat bagi manusia namun juga untuk tumbuhan dan binatang, bahkan benda mati sekalipun," ujarnya. 

Muqowim juga menyampaikan, agar hal ini bisa menjadi pembelajaran agar anak muda lebih menebarkan energi positif di manapun berada, tidak hanya di kampus tapi juga di lingkungan masing-masing.